Opini

Blokade Tanpa Perang, Strategi Trump Mencekik Iran dan Kesiapan Teheran Membakar Pasar Global

Mayjen TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer Republik Indonesia untuk PBB 2017–2019)

 

JAKARTA || Koranprogresif.id – Saya membaca kabar gagalnya perundingan Iran versus Amerika Serikat di Islamabad. Saya membacanya sambil duduk di beranda penginapan sederhana di Pantai Ujung Genteng, Sukabumi. Dari sini, ombak Selatan bergulung keras. Memecah karang. Memutih di kejauhan. Tapi jauh di sana, di Selat Hormuz, ombaknya lebih ganas lagi. Bukan ombak laut. Ombak kekuasaan.

 

*Saya Pernah Duduk di PBB, Saya Tahu Pola Ini*

 

Saya diberi amanah sebagai Penasihat Militer Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dari tahun 2017 sampai 2019. Saya duduk di Dewan Keamanan. Saya mendengar langsung bagaimana negara besar bermain. Satu hal yang saya pegang teguh sampai sekarang: *setiap kali diplomasi gagal di Timur Tengah, yang membayar mahal bukanlah Amerika, bukan pula Iran.*

 

Yang membayar mahal adalah negara berkembang. Seperti kita. Indonesia. Dan kali ini, pola permainannya berbeda. Ini bukan perang konvensional. Tidak ada tank bergerak di padang pasir. Tidak ada jet tempur yang membombardir kota setiap malam.

 

*Ini blokade total tanpa deklarasi perang.* Dan itu, menurut saya, lebih berbahaya.

 

*Kenapa Perundingan Islamabad Gagal?*

 

Sebabnya klasik. Saya sudah melihat puluhan kali di PBB dulu.

 

*Pertama,* Amerika Serikat di bawah Presiden Trump tidak percaya kepada Iran. Mereka menuntut Iran berhenti total dari program nuklirnya. Selamanya. Tanpa kompromi. Wakil Presiden Vance menyebutnya sebagai “tawaran final dan terbaik”.

 

*Kedua,* Iran juga tidak percaya kepada Amerika. Mereka sudah 45 tahun hidup di bawah sanksi. Bagi mereka, tuntutan AS itu hanyalah kuda Troya. Kedok untuk menjatuhkan rezim mereka. Menteri Luar Negeri Iran, Araghchi, bahkan bilang mereka sudah “hanya beberapa inci lagi” dari kesepakatan. Tapi AS terus mengubah target.

 

Hasilnya? Meja negosiasi ditutup. Dan AS memilih jalan sendiri: blokade angkatan laut di Selat Hormuz. Mulai 13 April 2026. Dari sudut hukum internasional, tindakan ini abu-abu. Tidak jelas hitam putihnya. Tapi dari sudut rakyat kecil? Jelas. Ini malapetaka.

 

*Jangan Remehkan Iran, Mereka Punya Strategi*

 

Saya sering ditanya di PBB dulu: “General, apakah Iran akan menyerang balik?”

 

Jawaban saya selalu sama: mereka tidak bodoh. Mereka tahu persis kekuatan militer konvensional mereka tidak sebanding dengan Amerika. Maka mereka bermain di tempat mereka unggul: perang asimetris. Saya akan jelaskan dengan sederhana.

 

*Pertama,* Iran menerapkan apa yang mereka sebut Mosaic Defence. Pertahanan Mozaik. Artinya, komando militer mereka tidak terpusat di satu tangan. Tersebar di 31 provinsi. Masing-masing berdiri sendiri. Jika Amerika menghancurkan satu provinsi, 30 provinsi lainnya masih utuh. Saya pernah melihat pola ini di Afghanistan. Di Somalia. Perang melawan jaringan selalu lebih panjang dan lebih menyakitkan daripada perang melawan satu negara.

 

*Kedua,* Iran mengandalkan ranjau cerdas di Selat Hormuz. Ini bukan ranjau buta seperti zaman Perang Dunia Kedua. Ranjau modern bisa dihidupkan dan dimatikan dari jarak jauh. Masalahnya, menurut pengakuan pejabat Amerika sendiri, Iran menanam ranjau itu secara sembarangan. Bahkan mereka sendiri kesulitan membersihkannya. Militer Amerika mengakui kekurangan kapal dan peralatan untuk membersihkan ranjau di perairan sempit seperti Hormuz. Akibatnya? Blokade bisa berlangsung berbulan-bulan. Sementara harga minyak dunia melonjak setiap hari.

 

*Ketiga,* Iran tidak sendirian. Mereka memiliki sekutu di Yaman, yaitu Houthi. Jika Hormuz tersumbat, Houthi akan menyerang Bab el-Mandeb. Dua jalur minyak dunia tersumbat bersamaan. Dua puluh persen aliran minyak dan gas dunia berhenti. Itu bukan lagi krisis regional. Itu krisis global.

 

*Dampaknya Sudah Mulai Terasa, Jangan Pura-Pura Tidak Tahu*

 

Saya tidak suka bicara pakai data membosankan. Tapi saya akan sampaikan beberapa angka agar Bapak dan Ibu pembaca tidak tidur.

 

*Harga minyak mentah dunia*, setelah blokade diumumkan, langsung menembus 103 dolar Amerika per barel. Naik delapan persen hanya dalam satu hari. Sebelumnya, saat ketegangan mulai memanas, harga pernah menyentuh 120 dolar.

 

*Harga gas alam di Eropa* melonjak 17 sampai 18 persen dalam hitungan jam. Eropa dan Asia sekarang berebut gas dari sumber yang tersisa.

 

*Harga pupuk urea* naik 44 persen. Lebih dari 680 dolar per metrik ton. Ini terjadi tepat di musim tanam. Ancaman terhadap pangan dunia bukan isapan jempol.

 

Dan yang paling membuat saya prihatin, Direktur IMF Kristalina Georgieva sudah memperingatkan bahwa negara berpenghasilan rendah yang mengimpor energi akan menjadi yang paling terpukul. Delapan puluh lima persen anggota IMF adalah pengimpor energi. *Indonesia adalah salah satunya.*

 

*Lalu, Apa Kabar Indonesia?*

 

Saya dari Ujung Genteng, setiap pagi melihat nelayan melaut. Mereka tidak tahu bahwa harga solar bisa naik kapan saja. Mereka tidak tahu bahwa biaya melaut mereka bisa membengkak.

 

Saya melihat petani padi di sawah-sawah sekitar. Mereka tidak tahu bahwa pupuk yang mereka beli bulan depan bisa dua kali lipat harganya.

 

Saya mendengar ibu-ibu di warung mengeluh harga cabai naik. Mereka tidak menyadari bahwa semua ini adalah rantai pasok global yang putus di Selat Hormuz.

 

Saudara-saudara sekalian, jarak dari Hormuz ke Ujung Genteng memang ribuan kilometer. Tapi secara ekonomi, jaraknya hanya sejauh tombol pompa bensin di SPBU terdekat.

 

*Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah Kita?*

 

Saya tidak lagi punya kewenangan. Saya hanya seorang purnawirawan yang ingin negerinya tidak tertidur di tengah badai. Tapi izinkan saya menyampaikan pendapat.

 

Pertama, pemerintah harus segera menyiapkan skenario darurat. Cadangan minyak mentah kita hanya cukup untuk 21 sampai 30 hari. Itu terlalu rentan. Jangan menunggu sampai kosong baru berpikir.

 

Kedua, jangan diam saja. Perkuat komunikasi dengan negara-negara non-blok seperti India, China, Rusia, dan Brasil. Kita tidak bisa hanya menjadi penonton sambil membayar mahal.

 

Ketiga, persiapkan masyarakat secara jujur. Sampaikan bahwa harga BBM dan pangan berpotensi naik. Indonesia masih impor kedelai 2,5 juta ton lebih. Gandum kita 100 persen impor, 11,7 juta ton per tahun. Susu kita defisit 3,5 sampai 4 juta ton. Jangan sampai pemerintah kaget, lalu rakyat marah karena tidak pernah diberi tahu. Keterbukaan adalah bagian dari kepemimpinan.

 

Keempat, perkuat ketahanan pangan dan energi kita. Bukan sekadar retorika. Ini ujian nyata. Krisis ini bukan isapan jempol. Ini sudah terjadi di depan mata kita.

 

*Satu Pesan Terakhir dari Seorang Purnawirawan*

 

Saya sudah puluhan tahun berseragam. Saya bertugas di medan konflik. Saya duduk di ruang-ruang rapat PBB yang dingin penuh intrik. Satu pelajaran yang tidak pernah saya lupakan: *perang tidak pernah dimenangkan oleh para jenderal. Perang selalu dimenangkan oleh politik. Dan yang membayar selalu rakyat.*

 

Sekarang, tidak ada perang terbuka. Yang ada adalah blokade. Tapi jangan salah. Blokade adalah perang terhadap warga sipil. Perang terhadap perut rakyat.

 

Semoga akal sehat masih tersisa di Washington dan Teheran. Karena jika tidak, ombak di Ujung Genteng bukan satu-satunya yang akan bergulung kencang. Harga kebutuhan pokok di warung sebelah rumah Bapak dan Ibu sekalian juga akan ikut bergulung.

 

*Salam sehat dari Sukabumi selatan*

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock