Blokade Biadab Trump, Menembak Kapal Iran di Perairannya Sendiri dan Menyandera Dunia demi Minyak

Oleh: Mayjen (Purn) Fulad (Penasihat Militer Republik Indonesia untuk Misi PBB 2017-2019)
JAKARTA || Koranprogresif.id – Saya pernah bertugas di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saya terbiasa melihat konflik dari dekat. Tapi yang terjadi sekarang di Teluk Persia penutupan Selat Hormuz dan penembakan kapal Iran TOUSKA oleh Amerika telah melampaui batas akal sehat.
Saya katakan dengan tegas, apa yang dilakukan pemerintahan Trump bukan operasi penegakan hukum tetapi Ini blokade biadab. Ini penyanderaan ekonomi dunia, semua hanya demi ambisi politik dan kuasa atas minyak.
*Hukumnya Jelas, Tidak Ada Mandat untuk Menembak*
Selama saya di PBB, satu prinsip yang kami junjung tinggi: dunia harus diatur oleh hukum, bukan oleh siapa yang paling kuat.
Mari kita bedah: adakah satu saja resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengizinkan Amerika memblokade Selat Hormuz dengan senjata? *Jawabannya: tidak ada. Sama sekali tidak ada.*
Selat Hormuz adalah jalur internasional. Ini diatur oleh hukum laut PBB (UNCLOS 1982). Iran, seperti halnya Indonesia, punya hak untuk melintas dengan damai. Juga hak untuk melindungi wilayah perairannya sendiri.
Tapi apa yang terjadi? USS Spruance menembaki ruang mesin TOUSKA, yang hanya berjarak 45 kilometer dari pantai Iran. Jarak yang sangat dekat dan Amerika bertindak sebagai hakim, jaksa, serta eksekutor sekaligus. Dalam bahasa militer dan hukum internasional, ini namanya agresi. Bukan membela diri. Bukan menegakkan hukum.
Saya khawatir: kalau prinsip seperti ini dibiarkan, siapa yang menjamin kapal Indonesia tidak akan ditembak suatu hari nanti dengan alasan yang sama?
*Gencatan Senjata Dikhianati*
Dunia sempat lega ketika Iran membuka kembali Selat Hormuz sebagai tanda itikad baik. Itu sebuah langkah berani. Seharusnya dijawab dengan pelonggaran blokade oleh Amerika. Tapi apa balasan Washington? Mereka melipatgandakan tekanan. Mereka menembak kapal Iran. Mereka memperketat blokade. Presiden Trump sendiri berkata: “Blokade AS akan tetap diberlakukan secara penuh.”
Sementara itu, di pidato yang sama, ia mengaku ada “pembicaraan yang sangat baik” yang sedang berlangsung. Maaf, saya harus bilang: *ini bukan diplomasi. Ini kemunafikan tingkat dunia.*
Saya sebagai mantan penasihat militer PBB. Saya tahu satu hal: *tidak ada komandan yang waras akan menghormati gencatan senjata jika pihak lawan terus menembak.* Maka Iran menutup kembali Hormuz. Itu bukan eskalasi. Itu respons yang logis terhadap janji yang diingkari.
Coba renungkan: siapa yang benar-benar ingin damai? Dan siapa yang hanya pura-pura sambil jarinya tetap di pelatuk? Dunia tidak bodoh. Dunia bisa melihat.
*Rakyat Kecil yang Membayar*
Ini bukan hanya tentang Iran atau Amerika. Ini tentang rakyat Indonesia, India, China, Eropa, dan Afrika.
Begitu Hormuz ditutup, harga minyak langsung meroket. Brent naik ke 96 dolar AS per barel. WTI ke 90 dolar. BBM naik. Harga pangan ikut melambung. Nelayan, sopir truk, pedagang pasar, ibu yang memasak untuk anak-anaknya, merekalah yang membayar mahal dari pertarungan para jenderal dan politisi di Washington dan Teheran.
Dan ada kabar yang lebih dekat dengan kita: dua kapal tanker milik Pertamina saat ini terjebak di Selat Hormuz. Nasib mereka tidak jelas. Aset nasional kita disandera dalam konflik yang bukan urusan kita. Saya bertanya, sebagai perwira yang dulu bersumpah untuk kemanusiaan:
*Berapa banyak anak yang putus sekolah karena orang tuanya tak lagi sanggup bayar? Berapa banyak warung yang tutup? Berapa banyak negara miskin yang ekonominya hancur? Berapa banyak nyawa yang melayang bukan karena peluru, tapi karena kelaparan dan kemiskinan?*
Blokade Amerika tidak hanya biadab secara militer. Biadab juga secara moral. Ini kekerasan yang bentuknya halus, tapi dampaknya lebih mematikan dari rudal.
*Saya Kritik Kedua Belah Pihak*
Saya tidak akan membela Iran secara mati-matian, sebagai seorang Perwira sejati tidak pura-pura buta.
Penutupan Hormuz oleh Iran juga merugikan banyak negara netral. Saya pahami itu sebagai langkah putus asa. Tindakan ini menyakiti sesama negara berkembang, sesama bangsa Asia, sesama manusia yang tidak punya urusan dengan konflik ini.
Saya katakan ke Iran secara tegas: buka selat secara bertahap. Jangan biarkan amarah membabi buta. Gunakan forum internasional untuk melawan blokade, bukan dengan cara yang malah memperkuat narasi musuh.
*Namun kita juga tahu bahwa akar masalahnya tetap ada di Washington.* Tanpa blokade ilegal Amerika, tidak akan ada alasan bagi Iran untuk menutup selat. Blokade Hormuz yang memicu pertama kali. Penutupan selat hanyalah reaksi, bukan aksi awal.
*Maka izinkan saya menyampaikan secara langsung kepada para pengambil keputusan di Amerika Serikat:*
Cabutlah blokade laut yang tidak pernah sah menurut hukum internasional. Hentikan patroli agresif yang hanya memicu tembak-menembak di perairan yang bukan milik Anda. Dan kembalilah ke meja perundingan, bukan dengan kapal perang dan rudal yang membayangi dari belakang, tetapi dengan niat tulus untuk mencari damai.
Karena percayalah, tidak ada kemenangan yang abadi dari ujung meriam. Yang ada hanya dendam yang menunggu waktu untuk membalas.
*Indonesia Harus Bicara, Bukan Diam*
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia juga pendiri Gerakan Non-Blok. Kita punya kewajiban moral untuk angkat suara. Kita tidak boleh diam saat selat strategis disandera kekuatan asing. Kita tidak boleh biarkan hukum rimba menggantikan hukum laut internasional.
Tapi di mana suara Indonesia selama ini? Yang kita dengar hanya pernyataan hati-hati yang tak membawa dampak. Saya tidak minta Indonesia ikut perang. *Saya minta Indonesia bicara dengan tegas dan bertindak nyata, dengan :*
Pertama, panggil Duta Besar kita untuk Amerika dan Iran. Tunjukkan bahwa kita tidak tinggal diam.
Kedua, ajukan resolusi darurat di Dewan Keamanan PBB. Amerika mungkin akan memveto. Tapi biar mereka yang malu di mata dunia.
Ketiga, lindungi dua kapal Pertamina yang terjebak. Jangan biarkan aset nasional menjadi korban.
Keempat, siapkan rencana darurat di dalam negeri. Agar rakyat kecil terlindungi dari lonjakan harga.
Dan kepada Dewan Keamanan PBB, saya minta untuk gelar sidang darurat, bukan untuk menyalahkan satu pihak tapi untuk memaksa gencatan senjata yang diawasi bersama dan membuka Hormuz di bawah perlindungan netral PBB.
*Penutup*
Blokade Trump adalah tindakan biadab, ini menyandera dunia. Sebagai mantan penasihat militer PBB, saya katakan: ini bukan jalan menuju damai tapi justru jalan menuju perang besar. Dan yang untung cuma satu: para pedagang senjata.
Sekali lagi saya tegaskan: ini bukan soal pro-Iran atau anti-AS. Ini soal kepentingan nasional Indonesia. Ini soal kemanusiaan. Ini soal hukum internasional versus hukum rimba.
*Apa kepentingan kita? Izinkan saya merangkainya kata-kata secara ringkas namun dalam:*
Kita ingin harga energi tetap stabil, bukan melambung karena ulah segelintir orang yang bermain perang. Kita ingin Selat Hormuz tetap terbuka, karena di sanalah denyut nadi ekonomi dunia berdetak. Kita ingin rakyat kecil, nelayan, sopir, pedagang, ibu-ibu yang memasak untuk keluarganya tetap bisa tersenyum, tidak jadi korban bisu dari konflik yang tak mereka pahami. Dan di atas semua itu, kita ingin hukum internasional ditegakkan, karena hanya dengan hukum yang lemah menjadi tempat berlindung dari kesewenang-wenangan yang kuat.
Itulah kepentingan kita. Sederhana. Jelas. Dan tidak bisa ditawar. Sudah saatnya dunia bersatu. Buka Hormuz. Hentikan blokade. Hentikan penembakan. Selamatkan kemanusiaan dari ambisi segelintir orang.
*Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?*
Merdeka!
*Depok 20 April 2026*










