Catatan dari Barikade: Saat Kuliah Beralih ke Jalanan

Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.
YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Langkah kaki itu ritmis, diiringi ketukan tongkat yang sesekali menghantam aspal panas. Di barisan paling depan, seorang mahasiswa berjaket almamater kusam menggenggam megapon. Suaranya serak, tetapi matanya menyala. Di belakangnya, ribuan anak muda bergerak bukan karena imbauan presensi dosen, melainkan karena rasa keadilan yang terusik. Lanskap politik bangsa hari ini sedang tidak baik-baik saja; ada riak ketidakpuasan yang membentur dinding-dinding kekuasaan.
Melihat fenomena gelombang demonstrasi mahasiswa belakangan ini, kita seperti sedang menyaksikan sejarah yang berulang dalam siklus yang lelah. Bangsa ini seolah terjebak dalam alur cerita lama: ketika saluran aspirasi formal tersumbat oleh oligarki dan nepotisme, jalanan menjadi ruang kelas terakhir untuk menyampaikan kebenaran.
Bertutur tentang pergerakan mahasiswa, sejarah dunia memang kerap ditulis oleh rasa frustrasi anak muda. Dalam analisis klasik ilmu politik Political Order in Changing Societies (New Haven: Yale University Press, 1968, hlm. 210), Samuel P. Huntington mencatat bahwa demonstrasi mahasiswa adalah sinyal paling gamblang dari kerapuhan kelembagaan politik suatu negara. Ketika partai politik kehilangan fungsi artikulasinya, mahasiswa mengambil alih peran sebagai pengawal moral.
Namun, mengabaikan ketajaman analisis sosiologis di balik aksi massa ini adalah sebuah kekeliruan besar. Sosiolog Jerman Jürgen Habermas dalam karyanya Strukturwandel der Öffentlichkeit (Neuwied: Hermann Luchterhand Verlag, 1962, hlm. 154) menekankan pentingnya ruang publik (Öffentlichkeit) tempat warga negara berdiskusi secara rasional tanpa intimidasi. Ketika ruang publik digital dialihkan menjadi arena manipulasi persepsi dan parlemen dipenuhi kompromi elit, demonstrasi di jalanan adalah bentuk pembentukan ruang publik tandingan (counter-public sphere) yang terpaksa diambil.
Di Indonesia, akar sejarah perlawanan ini sangat mendalam. Sebagaimana dicatat oleh pakar sejarah Indonesia asal Belanda, Harry A. Poeze, dalam buku monumental Tan Malaka, Strijder voor Indonesië’s Vrijheid (Leiden: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, 1988, hlm. 82), pemuda dan mahasiswa selalu menjadi katalis dalam momentum penentuan arah bangsa sejak fajar pergerakan nasional. Tradisi perlawanan intelektual ini juga menemukan padanannya dalam pemikiran filsuf Timur Tengah, Malik Bennabi. Dalam karya terbesarnya Syurut al-Nahdah (Kairo: Maktabah al-Nahdah al-Misriyyah, 1960, hlm. 45), Bennabi menegaskan bahwa kebangkitan suatu peradaban tidak diukur dari kemewahan infrastrukturnya, melainkan dari kesadaran kritis (al-wa’y al-tanqidi) pemudanya terhadap kezaliman dan stagnasi sosial.
Bangsa ini harus sadar, gelombang aksi mahasiswa saat ini bukanlah romantisme jalanan belakangan belaka. Dalam kajian kritis Soe Hok Gie yang termuat dalam Catatan Seorang Demonstran (Jakarta: LP3ES, 1983, hlm. 112), mahasiswa adalah mereka yang berani berdiri paling depan ketika kejujuran diecer dan keadilan ditawar-tawar.
Aksi massa yang terjadi di berbagai daerah hari ini adalah alarm keras bagi para pemangku kebijakan. Kekuasaan yang menutup telinga dari suara jalanan hanya sedang menabung kehancurannya sendiri. Sebab, ketika buku-buku teori di ruang kuliah tak lagi mampu menjelaskan absurdnya ketidakadilan, mahasiswa akan selalu menemukan caranya sendiri untuk mengajar pemerintah: di atas barikade jalanan.***
Penulis adalah:
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
– Dosen STAI Yogyakarta,
– Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul,
– Ketua Yayasan Majma’ Bahrain Internasional,
– Ketua Harian Paguyuban Keluarga Pasir se-Dunia (PKPD),
– Penasihat Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN).









