Opini

Melacak Jejak Pertama Pembelajaran Hadis di Nusantara: Dari Surau sampai Kampus

 

Oleh: Muhammad Rofik Mualimin

YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Pernahkah Anda membayangkan bagaimana nenek moyang kita pertama kali belajar sabda Nabi di tanah Nusantara? Jauh sebelum internet atau aplikasi kitab digital merambah ponsel pintar kita, perjalanan pembelajaran hadis di Indonesia menyimpan kisah panjang yang penuh keringat, perjalanan melintasi samudera, dan pergulatan intelektual yang luar biasa.

Jika kita tarik garis waktu ke belakang, tradisi literasi hadis di Nusantara tidak muncul begitu saja di ruang hampa. Pada abad ke-17, Syekh Abdurrahman Rauf Singkel pulang dari Haramain membawa angin segar pembaharuan. Dalam karyanya yang monumental, al-Maw’izhatul Badi’ah (Banda Aceh: Majelis Ulama Aceh, 1981, hlm. 12), ia tidak sekadar menerjemahkan teks, tetapi mengenalkan jaringan sanad hadis kepada masyarakat Melayu. Tradisi bertutur di surau-surau pesisir pun berubah—masyarakat awam yang semula hanya mendengar cerita lisan mulai diajak memahami validitas sebuah riwayat.

Menariknya, para peneliti Barat pun menaruh perhatian besar pada dinamika ini. Snouck Hurgronje dalam Mekka in the Latter Part of the 19th Century (Leiden: E.J. Brill, 1931, hlm. 215) menggambarkan betapa gigihnya para pencari ilmu asal Indonesia—yang kerap dijuluki “Jawa”—berguru langsung di serambi Masjidil Haram. Mereka menghapal Kutubut Tis’ah di bawah bimbingan ulama besar, lalu membawa pulang naskah-naskah berharga tersebut ke kampung halaman.

Memasuki awal abad ke-20, dinamika pengajaran hadis mengalami pergeseran struktur secara mendasar. Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat (Bandung: Mizan, 1995, hlm. 112) mencatat bagaimana pesantren di Jawa mulai melembagakan pengajaran kitab-kitab standar seperti Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Metode bandongan dan sorogan yang hangat di saung-saung bambu menjadi saksi betapa santri awam diajak menyelami bobot keilmuan yang amat ketat.

Kritik atas transmisi ini juga datang dari sarjana Jerman, Ignaz Goldziher, melalui karyanya Muhammedanische Studien (Halle: Max Niemeyer, 1890, hlm. 175). Ia mengkritisi pentingnya penyaringan otentisitas teks dalam sejarah Islam. Di Nusantara, kesadaran kritis ini direspon secara ilmiah oleh para ulama lokal yang menggabungkan ketelitian tradisi sanad dengan konteks sosial masyarakat setempat.

Kini, di era modern, pengajaran hadis telah bertransformasi dari tradisi lisan di lesehan surau menuju panggung akademis universitas dan media digital. Namun, esensinya tetap sama: menyambungkan ingatan kolektif umat kepada keteladanan Sang Nabi. Memahami sejarah pembelajaran hadis bukan sekadar urusan menghapal nama perawi, melainkan merawat warisan intelektual yang membentuk watak keislaman Nusantara yang ramah, kritis, dan berakar kuat.***

Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock