Peristiwa

Santri Korban MBG, PGSI Akan Lapor BGN Pusat agar SPPG Ditutup Permanen

DEMAK || Koranprogresif.id – PGSI mendesak dan menuntut agar SPPG Dempel Pilangwetan memberikan kompensasi uang 2 juta per Korban. Dan memberitahu ke Pesantren dan Sekolah untuk mengalihkan MBG ke SPPG lainnya, hingga melaporkan ke BGN Pusat agar SPPG ditutup permanen. Dikarenakan imbas adanya Ratusan santri diduga korban MBG SPPG Dempel Pilangwetan, Kebonagung, Demak, Minggu (19/4) lalu.

 

Hal tersebut diungkapkan Noor Salim, Ketua PGSI (Persatuan Guru Seluruh Indonesia) Kabupaten Demak, melalui keterangannya, Rabu (22/4).

 

“Hal ini sebagai ganti rugi bagi orangtua yang menunggui, juga kerugian psikis santri, hingga ketinggalan pelajaran juga akibat trauma terhadap makanan,” jelas Salim.

 

Salim juga memberikan trauma healing kepada santri korban, di dampingi Ketua FKKSS, Ketua RMI-NU, serta Ketua FKPP saat mengunjungi di RSUD Sultan Fatah Karangawen

 

Diungkapkan, jumlah santri yang dirawat di RSUD Sulfat, ada 15 di ruang rawat inap, 1 santri di ruang IGD baru masuk Senin siang dengan kondisi santri sebagian masih merasakan Pusing, mual dan nyeri pada perut, tambah Salim.

 

“Mereka ditunggui orang tua masing-masing dan para ustadz guru pesantren, hal ini dilakukan demi menjaga anaknya, sekalipun orangtua harus kehilangan pendapatan sampai 3 hari meninggalkan pekerjaan,” tambah Noor Salim.

 

Sementara itu Sekda Demak, Akhmad Sugiharto dan Kepala Desa Pilangwetan, Toha Mahsun saat di konfirmasi terkait kejadian di SPPG Pilangwetan via whatshap, Selasa (21/4), menjelaskan bahwa, tim sudah melakukan pengobatan semua korban ke rumah sakit dan SPPG ditutup sementara. “Pihaknya saat ini terus ikut memantau, karena sudah ditangani pihak-pihak terkait,” ujarnya.

 

 

*BGN Bertanggung Jawab*

 

Terpisah, Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Demak, Ali Muzani, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas insiden tersebut.

 

“Kami sangat prihatin atas kejadian ini dan menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat, khususnya di wilayah Kebonagung. Kami akan berupaya maksimal menangani ini secara transparan dan tuntas,” kata Ali Muzani.

 

Hingga kini pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab kejadian, karena semua dari hasil uji coba atau pencicipan makanan, menunjukkan kondisi layak konsumsi, sebelum didistribusikan kepada seluruh penerima manfaat.

 

Ali Muzani menambahkan, Badan Gizi Nasional (BGN) telah menghentikan sementara operasional SPPG Yayasan Khidmatul Ummah Madani sejak Senin (20 April 2026). Operasional akan dibuka kembali setelah dilakukan evaluasi menyeluruh dan dinyatakan memenuhi persyaratan.

 

Menurut dia, BGN juga bertanggung jawab atas seluruh biaya pengobatan korban, baik di rumah sakit, puskesmas, maupun perawatan mandiri. Selain itu, BGN memberikan pendampingan trauma healing kepada para korban agar tidak mengalami ketakutan dalam mengonsumsi makanan dari program MBG.

 

Dari sisi teknis, proses pengolahan makanan disebut telah mengikuti standar operasional prosedur. Bahan baku diterima pada Jum’at (17/4) sekitar pukul 15.00 WIB, kemudian disortir sebelum masuk tahap penyiapan.

 

Proses memasak dilakukan pada dini hari, sekitar pukul 01.00 hingga 05.00 WIB, dengan menu nasi goreng, susu, telur, acar dan jeruk. Setelah itu, pendistribusian makanan kepada para penerima manfaat mulai dilakukan pukul 06.00 WIB.

 

Pihak penyelenggara juga mengimbau seluruh SPPG, agar meningkatkan kehati-hatian dan ketelitian dalam pengolahan makanan guna mencegah kejadian serupa terulang.

 

“Kami mengimbau seluruh penyelenggara SPPG agar lebih berhati-hati dan meningkatkan pengawasan dalam setiap tahapan pengolahan makanan, sehingga kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” ujar Ali Muzani. (Red).

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock