Sarjana Mengayuh Pedal: Dongeng Angka Statistik dan Jebakan Pekerja Semu

Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.
YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Bagas mencengkeram erat setang sepeda motornya di bawah guyuran hujan deras Jakarta. Ijazah teknik mesin berpredikat cum laude yang diraihnya dua tahun lalu tersimpan rapi di dalam tas kedap air, melindunginya dari cipratan air jalanan saat ia mengejar target pesanan makanan. Di atas kertas, Bagas bukan pengangguran. Dalam catatan statistik resmi pemerintah, keberadaannya dihitung sebagai bagian dari angka keberhasilan penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Namun, di balik senyum tipisnya saat menerima tip lima ribu rupiah, ada kebenaran pahit: perekonomian nasional sedang lihai menyulap pengangguran terselubung menjadi seolah-olah lapangan kerja yang produktif.
Fenomena “Bagas-Bagas” baru yang kian memadati jalanan kota bukan sekadar cerita kemalangan individu, melainkan cermin dari gejala premature deindustrialization atau deindustrialisasi dini yang menggerogoti struktur ekonomi kita. Sektor manufaktur yang seharusnya menjadi penyerap utama tenaga kerja terdidik berproduktivitas tinggi terus menyusut kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Akibatnya, angkatan kerja muda terpelajar terlempar ke sektor jasa informal yang minim pelindungan. Ekonom Dani Rodrik dalam Premature Deindustrialization (2016: 9–14) mengingatkan bahwa negara berkembang yang kehilangan basis manufakturnya sebelum mencapai taraf kemakmuran akan terjebak dalam pertumbuhan yang rapuh serta penciptaan pekerjaan bermutu rendah.
Pemerintah kerap menepuk dada ketika grafik pengangguran menunjukkan tren menurun. Padahal, jika dibedah lebih dalam, penurunan tersebut didorong oleh lonjakan angka underemployment (setengah penganggur) dan pekerja mandiri di sektor gig economy. Pekerjaan berbasis aplikasi ini sering dipoles dengan narasi manis kemandirian dan fleksibilitas jam kerja. Padahal, model ini secara terselubung memindahkan seluruh risiko bisnis—mulai dari depresiasi aset, biaya bahan bakar, hingga jaminan kesehatan—ke pundak pekerja.
Sebagaimana dipetakan secara tajam oleh Guy Standing dalam The Precariat: The New Dangerous Class (2011, hlm. 25–30), fenomena ini melahirkan kelas sosial baru yang rentan bernama prekariat—kelompok masyarakat yang bekerja tanpa kepastian pendapatan, tanpa jaminan sosial, dan tanpa jalur karier yang jelas.
Statistik resmi acapkali menjadi candu yang meninabobokan para pengambil kebijakan. Mengukur kesehatan pasar kerja sekadar dari status “bekerja atau tidak” tanpa memperhitungkan kelayakan upah, keamanan kerja, dan produktivitas adalah cara pandang yang sempit. Amartya Sen dalam Development as Freedom (1999: 94), menegaskan bahwa pengangguran dan keterpaksaan bekerja jauh di bawah kapasitas asli seseorang bukan sekadar hilangnya pendapatan, melainkan bentuk perampasan kapabilitas dasar manusia untuk berkembang secara utuh.
Sudah saatnya reorientasi kebijakan ketenagakerjaan nasional bergeser dari sekadar merayakan angka kuantitas menuju pembenahan kualitas. Tanpa strategi reindustrialisasi yang matang dan revitalisasi sektor bernilai tambah tinggi, kita hanya sedang menipu diri sendiri dengan dongeng indah angka statistik. Sementara di jalanan, ribuan sarjana akan terus mengayuh pedal dan memutar gas, menjemput masa depan yang tak pernah pasti.***
Penulis adalah:
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
– Dosen STAI Yogyakarta,
– Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul,
– Ketua Yayasan Majma’ Bahrain Internasional,
– Ketua Harian Paguyuban Keluarga Pasir se-Dunia (PKPD),
– Penasihat Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN).









