Selain Ngibul, Jokowi Tipikal Manusia Munafik

Oleh: Jerry Massie (Direktur P3S)
JAKARTA || Koranprogresif.id – Jokowi adalah manusia paling munafik sedunia. Sok mengkritik pemerintahan Prabowo, tapi dia lupa background-nya selama 10 tahun menjabat, kerap menyakiti hati rakyat dengan yakni tak membayar lahan warga yang dijadikan jalan tol. Main bangun tapi lupa kewajiban, inilah gaya menajemen “tiba saat tiba akal” dan juga sein kiri belok kanan.
Diera Jokowi, beberapa kasus lahan warga atau masyarakat adat saat itu belum dilunasi pembayarannya meliputi: Tol Semarang-Demak: Warga sempat melakukan aksi protes karena uang ganti rugi tanah mereka belum cair saat peresmian tol ini.
Kala itu muncul keluhan dari masyarakat terkait tanah untuk proyek LRT yang belum selesai dibayar. Kereta Api Sulawesi Selatan. Sebagian pemilik lahan di jalur kereta api Sulawesi Selatan melaporkan bahwa tanah mereka belum dibayar lunas meskipun proyek telah diresmikan.
Bahkan, menjelang akhir masa jabatan Jokowi, sejumlah persoalan pembebasan lahan dan ganti rugi warga di kawasan IKN, Kalimantan Timur, dilaporkan masih menyisakan masalah dan belum sepenuhnya tuntas. Harga beras sempat mencetak rekor tertinggi hingga Rp18.000 per kilogram pada awal tahun 2024.
Selain itu, Bahan Bakar Minyak (BBM), Pemerintah beberapa kali menaikkan harga BBM bersubsidi dan non-subsidi untuk menyesuaikan kondisi keuangan negara dan harga minyak dunia.
Fenomena antre minyak goreng di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terjadi secara massal pada awal tahun 2022 akibat kelangkaan stok dan lonjakan harga.
Sejak turun tahta, mantan Presiden ke-7 ini meninggalkan Hutang Rp8500 triliun pada Prabowo.
*Minyak Goreng Kemasan Premium*
Sempat melonjak hingga kisaran Rp25.700 per liter di pasar konvensional dan ritel tertentu pada pertengahan 2022.
*Minyak Goreng Curah*
Di pasar tradisional sempat menembus angka Rp19.000 hingga Rp21.000 per kilogram/liter sebelum akhirnya pemerintah memberlakukan intervensi
*Kebijakan HET Puncak Krisis*
Pemerintah sempat mematok Harga Eceran Tertinggi (HET) tertinggi resmi di angka Rp14.000 per liter untuk semua jenis kemasan pada Januari 2022 (yang berujung kelangkaan), lalu disesuaikan kembali menjadi Rp14.000 per liter untuk Minyakita/kemasan rakyat dan Rp15.500 per kilogram untuk curah setelah dilepas ke mekanisme.
Dibandingkan sebelum Soeharto lengser, ekonomi meroket pertumbuhan ekonomi kita tembus 7,8 persen, bahkan 1984 Indonesia pernah mencapai swasembada pangan, tak ada impor garam, gula, daing sapi, bawang putih sampai beras bahkan harga bahan bakar premium cuma Rp 700 per liter – sebelum naik menjadi Rp 1.200 per liter. Harga beras masih sekitar Rp 1.100 per liter, harga nasi padang Rp 2.300 per porsi, dan harga makanan sejuta umat alias mi instan hanya Rp 250 per bungkusnya. Kalau dibandingkan dengan harga sekarang, pada saat itu tentu jauh lebih murah.
Berdasarkan data Upah Minimum Propinsi (UMP), pada tahun 1998 rata-rata orang Indonesia beroleh penghasilan sebesar Rp 150.900 per bulan. Artinya pada masa itu dengan gaji yang diterima, masyarakat bisa membeli 215,5 liter premium, atau 137 liter beras, atau 603 bungkus mi instan. Kalau mau makan nasi padang dengan lauk pauk ayam, dapat 66 porsi.
Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) atau ekonomi Indonesia di era Presiden Soeharto (Orde Baru, 1967–1998) rata-rata mencapai 6 hingga 7 persen per tahun.
*Pertumbuhan Ekonomi (PDB) Rata-rata Tinggi*
Ekonomi tumbuh stabil sekitar 6,77% per tahun pada periode 1968–1997. Masa Kejayaan: Pada 1989–1996.
Jadi Era Jokowi selain sistem demokrasi dirusak, kepemiluan dihancurkan dan negara di gadaikan dan di jual ke asing. Jadi pernyataan Jokowi soal mendengar rakyat hanya pepesan kosong bahasa sampah yang dilontarkan. Justru Jokowi pemimpin yang tak peduli dengan rakyat.
Dia lebih banyak mainkan politik pencitraan, bagi-bagi duit dan lempar-lempat sembako di jalan dan banyak bersandiwara
Memang, Jokowi manusia ‘bulus’ beda dengan Soeharto bahkan Prabowo adalah manusia ‘tulus’ yang mengabdikan diri mereka untuk bangsa dan nengara. Inilah sikap kenegarawanan.
Beda Jokowi mengabdikan dirinya untuk keluarga dan oligarki.
Memang Jokowi terus bermanuver menggangu Prabowo, dia tak akan pensiun dan berhenti mengobrak-abrik pemerintahan ini. Pola permainan raja-rajaan sampai blusukan politik akan terus dilakukannya. Buktinya baru-baru ini dia hadir pertemuan di Penang, Malaysia dan ditelepon PM Malaysia, Anwar Ibrahim harusnya pemimpin Malaysia menelepon Prabowo.
Sementara, Jokowi mengkritik kinerja Prabowo seakan-akan dia yang lebih peduli dan mendengar keluhan rakyat ketimbang Prabowo. Semua itu omong kosong dari Raja Jawa. ***









