SLBN Budi Utama Gelar Diskusi Parenting, Perkuat Pendampingan Psikologis ABK

KOTA CIREBON – Koranprogresif.id – Upaya meningkatkan kualitas pendampingan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) terus dilakukan SLBN Budi Utama Kota Cirebon. Salah satunya dengan digelarnya diskusi parenting yang bertemakan “Ruang Pulih Psikologis Guru dan Orang Tua” yang menghadirkan praktisi dan akademisi psikologi, Selasa (23/6/2026).
Kegiatan ini mempertemukan guru, orang tua, serta praktisi untuk berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Kepala SLBN Budi Utama Kota Cirebon, Lela Latifah, S.Pd., M.M.Pd., mengatakan forum tersebut sengaja digelar agar guru dan orang tua dapat saling berbagi pengalaman sekaligus memperoleh solusi dari para ahli.
“Kami berharap para orang tua dan guru dapat menyampaikan berbagai permasalahan yang dihadapi sehingga dapat didiskusikan dan dicarikan solusi bersama narasumber,” ujar Lela.
Dua narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, yakni praktisi psikologi pendidikan Muhammad Ifan Fauzi, S.A., S.Psi., M.Psi., C.MH., CT serta akademisi psikologi Dr. (c) Dina Hardina, S.Psi., M.Si. Keduanya membahas pentingnya memahami kondisi emosional anak berkebutuhan khusus agar proses pendidikan dan pengasuhan berjalan lebih efektif.
Dalam pemaparannya, para narasumber menjelaskan bahwa pengalaman masa kecil, pola pengasuhan, hingga lingkungan sosial dapat meninggalkan dampak psikologis yang memengaruhi perkembangan anak. Karena itu, guru dan orang tua dituntut memiliki pendekatan yang lebih empatik dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
Suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Peserta aktif mengajukan pertanyaan mengenai berbagai persoalan yang mereka alami saat mendampingi anak, mulai dari cara menghadapi perubahan perilaku hingga membangun komunikasi yang positif.
Selain membahas teori, para narasumber juga memberikan sejumlah tips praktis yang dapat diterapkan di rumah maupun di sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak.
Lela berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan sebagai ruang belajar bersama bagi guru dan orang tua.
“Harapan kami, kegiatan ini dapat menambah pemahaman para pendamping sehingga setiap anak memperoleh layanan dan pola pendampingan yang sesuai dengan kebutuhannya,” tuturnya.
Menurutnya, kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan praktisi menjadi kunci dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif serta mampu mengoptimalkan potensi setiap anak berkebutuhan khusus. (RN)





