Opini

Timur Tengah Panas, APBN Kita Jebol, Demo Jakarta Meledak

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer RI untuk PBB 2017–2019)

 

JAKARTA || Koranprogresif.id – Saya baca New York Times minggu ini. Mereka kasih peringatan keras: perang Iran vs Amerika-Israel tidak hanya membakar padang pasir. Tapi membakar kantong kita semua. Pertumbuhan ekonomi global 2026 bakal melambat. Bukan karena COVID, bukan karena perang dagang. Tapi karena minyak naik gila-gilaan.

 

Orang Jakarta mungkin tidak pernah dengar suara rudal. Tapi mereka akan merasakan efeknya: harga sembako naik, tarif angkot naik, dan yang paling menyakitkan, BBM ikut naik.

 

Dan lihat yang terjadi sekarang. Demo di mana-mana. Jakarta panas. Rakyat turun ke jalan. Mereka tidak teriak “Hidup Iran” atau “Hancurkan Israel”. Mereka teriak soal perut lapar, soal BBM mahal, soal hidup makin susah.

 

Saya bilang, jangan salah fokus. Demo ini bukan urusan politik biasa. Ini efek berantai dari ketergantungan energi kita yang parah.

 

*Subsidi BBM: Tameng atau Bom Waktu?*

 

Setiap kali ada keributan di Timur Tengah, pemerintah kita deg-degan. Kenapa? Cadangan BBM kita cuma cukup 18 hari. Begitu Selat Hormuz diganggu, harga minyak dunia loncat ke 150 dollar per barel, maka subsidi energi yang sekarang Rp300 triliun bisa membengkak ke Rp500 triliun.

 

Dan itu artinya apa? Uang pembangunan jalan, gaji guru, alutsista TNI, dan bantuan sosial akan tersedot habis ke pompa bensin. Cuma untuk menahan harga agar rakyat tidak teriak lebih keras.

 

Tapi kenyataannya, rakyat tetap teriak. Lihat demo di Jakarta. Itu baru permulaan. Kalau APBN benar-benar jebol, pemerintah cuma punya dua pilihan: naikkan subsidi (utang numpuk) atau hapus subsidi (harga naik, demo makin besar). Dua-duanya jelek.

 

*Saya Bicara Sebagai Prajurit, Bukan Politisi*

 

Saya sering ditanya: “Pak, TNI punya tank Leopard, jet F-16, kapal perang canggih, tapi kenapa masih takut demo?” Saya jawab: Alutsista canggih tidak berguna kalau bensinnya habis. Dan bensin habis bukan karena perang, tapi karena APBN bocor. Musuh tidak perlu menyerang pangkalan kita. Cukup buat minyak dunia mahal, maka TNI sendiri akan kesulitan gerak, apalagi demo di Jakarta membutuhkan banyak pasukan untuk jaga keamanan.

 

Iron Dome Israel hebat. Tapi Iron Dome Indonesia ada di kertas kerja Kementerian Keuangan. Kalau baris subsidi jebol, maka benteng pertahanan kita ikut jebol.

 

*Solusi: Jangan Cuma Ngomong, Tapi Eksekusi*

 

Saya tidak suka basa-basi. Kita harus berani alihkan 20 persen dari anggaran subsidi. Namakan saja Dana Mandiri Energi Nasional. Buat apa? Untuk bangun PLTB Sidrap, eksplorasi panas bumi, ubah batu bara jadi DME pengganti LPG, dan bikin pabrik baterai serta panel surya di dalam negeri.

 

Targetnya: 2030, minimal 30 persen energi kita dari sumber dalam negeri. Tidak ada tawar-menawar.

 

Kenapa ini penting? Karena jika energi kita mandiri, harga BBM tidak mudah goyang. APBN aman. Rakyat tidak demo besar-besaran. TNI bisa fokus jaga perbatasan, bukan cuma jaga demo.

 

*Penutup*

 

Demo Jakarta hari ini adalah alarm paling nyata. Jangan anggap angin lalu. Ini peringatan bahwa ketergantungan energi bisa meruntuhkan stabilitas nasional tanpa satu tembakan pun.

 

Negara yang tidak merdeka energinya, tidak akan pernah benar-benar merdeka. Dan rakyatnya akan terus turun ke jalan.

 

Sudah waktunya bertindak, bukan sekadar berjanji.

 

*NKRI Harga Mati.*

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock