Masa Depan Indonesia, Indonesia Masa Depan: Akankah Menjadi Negara Maju atau Negara Gagal?

Oleh: Mayjen (Purn) TNI Fulad (Penasihat Militer RI untuk PBB 2017-2019)
JAKARTA || Koranprogresif.id –
*Pendahuluan*
Sembilan belas tahun lagi, tepatnya 2045, Indonesia genap berusia 100 tahun merdeka. Di atas kertas, kita memiliki semua modal: bonus demografi 194 juta jiwa, sumber daya alam terbesar di Asia Tenggara, dan target ekonomi untuk masuk lima besar dunia.
Namun, di sisi kertas yang lain juga tertulis: 50% penduduk kita belum melek data, 60% pekerjaan hari ini akan hilang karena kecerdasan buatan (AI), dan indeks toleransi kita masih fluktuatif.
Maka, pertanyaannya harus diajukan sejujurnya: Akankah Indonesia 2045 menjadi negara maju, atau justru menjadi negara gagal?
Tidak ada pilihan di tengah-tengah. Karena sejarah membuktikan, negara yang gagal menangkap momentum 100 tahun kemerdekaan akan membutuhkan 100 tahun lagi untuk bangkit.
*Modal Kita: Besar, Tapi Rapuh*
Kita kerap berbangga: “Indonesia kaya.” Benar. Kita memiliki nikel, sawit, laut, hutan, dan manusia.
Tetapi kekayaan tanpa arah adalah kutukan. Lihat Venezuela. Dulu negara minyak terkaya di kawasan, kini inflasinya mencapai 1000%. Lihat Nigeria. Bonus demografi tidak dimanfaatkan, malah berubah menjadi bom pengangguran.
Data BPS 2024 mencatat, 58% pekerja Indonesia masih berada di sektor informal. Data Kemendikbud menunjukkan, hanya 8 dari 1.000 lulusan SMA yang kompeten di bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika). Data Bappenas memperkirakan, kita membutuhkan 9 juta talenta digital sampai 2030, tetapi yang tersedia baru 1,2 juta.
Ini artinya: kita punya “bahan baku”, tetapi belum memiliki “resep” dan “koki” yang mumpuni. Negara maju tidak dibangun dari sumber daya alam, melainkan dari sumber daya manusia. Korea Selatan nyaris tidak memiliki apa pun selain manusia dan tekad. Namun 50 tahun kemudian, mereka melahirkan Samsung dan K-Pop.
Pertanyaannya kini: resep kita apa? Dan kokinya siapa?
*Tiga Jurang yang Bisa Menjatuhkan Kita*
*Pertama,* Kualitas SDM.
Bonus demografi bisa menjadi berkah, bisa pula menjadi bencana. Jika 194 juta anak muda kita hanya pandai menggulir layar TikTok tanpa memahami AI, robotika, dan koding, maka mereka bukan asset, mereka adalah beban. Dan beban sebesar 194 juta jiwa itu mampu meruntuhkan sendi-sendi negara.
*Kedua,* Polarisasi Sosial.
Data dari Setara Institute 2024 mencatat adanya 273 peristiwa intoleransi. Di media sosial, algoritma mengurung kita dalam echo chamber sendiri. Kita makin mahir memarahi sesama anak bangsa, tetapi justru tumpul menghadapi tantangan global. Ingatlah, negara gagal selalu diawali dari bangsa yang tidak percaya satu sama lain.
*Ketiga,* Tata Kelola.
Korupsi masih menjadi kanker birokrasi. Iklim investasi masih berbelit-belit. Hukum masih tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Negara maju memiliki tiga ciri utama: hukum ditegakkan, birokrasi melayani, dan pemimpin memberi keteladanan. Jika ketiganya tidak dibenahi hingga 2045, maka visi “Indonesia Emas” hanya akan tinggal slogan di atas baliho.
*Jalan Menuju Negara Maju*
Agar tidak terjerumus menjadi “negara gagal”, kita membutuhkan tiga kompas sekaligus.
*Pertama:* Nasionalisme Produktif.
Cinta tanah air bukan sekadar upacara 17 Agustus, melainkan membeli produk UMKM, membayar pajak, dan tidak korupsi. Contoh nyata adalah Estonia. Negara kecil, tetapi 99% layanan publiknya digital. Warganya bangga karena birokrasi tidak mempersulit kehidupan. Itulah nasionalisme dalam tindakan.
*Kedua:* Agama sebagai Etika Publik.
Indonesia bukan negara sekuler, juga bukan negara agama. Indonesia adalah negara Pancasila. Artinya, agama harus menjadi sumber etika publik: antikorupsi, kejujuran, dan gotong royong. Organisasi masyarakat besar seperti NU dan Muhammadiyah memiliki jaringan hingga sekitar 200 juta jiwa. Jika energi raksasa ini diarahkan ke pendidikan vokasi dan penguatan ekonomi umat, maka ia akan menjadi mesin peradaban paling kuat di dunia.
*Ketiga:* Kepemimpinan Visi Jangka Panjang.
Negara maju membutuhkan pemimpin yang berani mengambil kebijakan tidak populer hari ini demi masa depan anak cucu 20 tahun mendatang. Pemimpin yang berani berinvestasi pada riset, bukan hanya pada infrastruktur fisik semata. Pemimpin yang berani memotong ego sektoral demi satu peta jalan nasional yang terintegrasi.
*Penutup*
“Masa Depan Indonesia” adalah pekerjaan rumah bagi pemerintah. “Indonesia Masa Depan” adalah pekerjaan rumah bagi kita semua.
2045 tidak akan datang dengan sendirinya. Ia dibentuk oleh keputusan kita hari ini: orang tua yang menyekolahkan anaknya setinggi mungkin, guru yang tidak pernah absen, ASN yang tidak berbelit-belit, pengusaha yang tidak menipu, dan pemuda yang tidak apatis.
Jadi, pilihannya hanya dua.
Pilihan pertama: 20 tahun lagi kita menjelma menjadi Korea Selatan-nya Asia Tenggara. Dihormati, disegani, dan rakyatnya sejahtera.
Pilihan kedua: 20 tahun lagi kita menjadi peringatan dalam buku sejarah yang berbunyi, “Dulu Indonesia punya kesempatan emas, tetapi menyia-nyiakannya.”
Saya tidak mau mewariskan pilihan kedua kepada anak cucu saya. Saya yakin Bapak dan Ibu semua pun demikian.
Karena itu, mulai hari ini, mari kita jawab: Indonesia mau jadi apa?
Jawabannya tidak hanya ada di Istana Negara. Jawabannya ada di rumah kita, di kelas kita, di kantor kita dan di lubuk hati kita masing-masing. ***











