BINTANG YANG BERTAMBAH, DAYA TEMPUR YANG DIPERTANYAKAN?

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer RI untuk PBB 2017–2019)
JAKARTA || Koranprogresif.id –
(Pelajaran dari Amerika Serikat, Tiongkok dan Iran bagi TNI AD)
*Pendahuluan*
Ada sebuah adagium tua dalam dunia militer yang tetap relevan hingga hari ini: tentara tidak dibangun untuk mengelola pangkat, tetapi untuk memenangkan peperangan. Pangkat hanyalah konsekuensi dari tanggung jawab, bukan tujuan yang harus diciptakan. Ketika sebuah organisasi militer mulai lebih sibuk mengatur struktur internalnya daripada mempersiapkan pasukan menghadapi ancaman nyata, maka sesungguhnya pertanyaan mendasar perlu diajukan: masihkah organisasi itu bergerak sesuai dengan tujuan kelahirannya?
Pertanyaan tersebut patut direnungkan ketika kita melihat dinamika yang berkembang di tubuh TNI AD dewasa ini. Perdebatan mengenai jumlah perwira tinggi, pembentukan struktur baru, rekrutmen besar-besaran, hingga pola promosi yang semakin cepat bukanlah isu personal dan bukan pula persoalan administrasi semata. Ini adalah isu strategis yang berkaitan langsung dengan profesionalisme, efektivitas organisasi, dan kesiapan tempur TNI pada masa depan.
Kritik terhadap keadaan ini tidak boleh dimaknai sebagai upaya melemahkan institusi. Sebaliknya, kritik adalah bentuk kecintaan kepada institusi yang telah menjadi benteng pertahanan bangsa sejak republik ini berdiri. Karena itu, pembicaraan mengenai reformasi TNI harus dilakukan dengan keberanian intelektual, kejernihan berpikir, dan kesetiaan kepada kepentingan negara.
*Amerika Serikat: Pangkat Mengikuti Kebutuhan Organisasi*
Amerika Serikat adalah kekuatan militer terbesar di dunia. Dengan personel aktif lebih dari satu juta orang, operasi militer yang tersebar di berbagai kawasan, serta anggaran pertahanan terbesar di dunia, Amerika memiliki semua alasan untuk memperbesar struktur perwira tingginya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Militer Amerika sangat ketat dalam mengatur jumlah jenderal. Tidak semua kolonel akan menjadi brigadir jenderal. Bahkan banyak perwira dengan prestasi luar biasa harus mengakhiri kariernya sebagai kolonel karena organisasi tidak membutuhkan tambahan perwira tinggi.
Di Amerika, promosi bukanlah penghargaan atas loyalitas personal. Promosi adalah hasil dari kompetisi yang keras, berdasarkan kemampuan memimpin pasukan, keberhasilan operasi, integritas, serta kebutuhan organisasi.
Prinsip yang mereka pegang sangat sederhana:
Militer dibangun untuk perang, bukan untuk menyediakan jabatan.
Karena itu, struktur organisasi dijaga agar tetap ramping dan efektif. Pangkat mengikuti kebutuhan, bukan sebaliknya.
*Tiongkok: Reformasi Dimulai dari Keberanian Merampingkan Struktur*
Tiongkok memberikan pelajaran yang tidak kalah penting.
Ketika Xi Jinping memulai reformasi militer pada tahun 2015, langkah yang diambil bukan memperluas organisasi, tetapi merombaknya secara besar-besaran.
Ratusan ribu personel dikurangi.
Berbagai struktur lama dibubarkan.
Sejumlah jabatan yang dianggap tidak efisien dipangkas.
Tujuannya bukan penghematan anggaran, melainkan meningkatkan kemampuan tempur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).
Xi Jinping berulang kali menegaskan: *The military must be able to fight and win wars.*
Kalimat itu menjadi roh reformasi militer Tiongkok.
Semua struktur, semua jabatan, semua pendidikan, dan semua promosi harus bermuara pada satu hal: *Apakah tentara semakin siap bertempur?*
Jika jawabannya tidak, maka reformasi harus dilakukan.
*Iran: Ketahanan Militer Tidak Diukur dari Banyaknya Jenderal*
Iran menghadirkan pelajaran yang berbeda.
Selama lebih dari empat dekade menghadapi embargo ekonomi, tekanan politik, ancaman perang, dan berbagai operasi intelijen asing, Iran menyadari satu kenyataan:
Mereka tidak mungkin mengalahkan Amerika Serikat melalui perang konvensional.
Karena itu, Iran memilih jalan lain.
Mereka membangun pertahanan yang berorientasi pada kesiapan tempur, bukan kemewahan organisasi.
Iran mengembangkan drone tempur.
Mereka memperkuat kemampuan rudal.
Mereka membangun sistem pertahanan berlapis.
Mereka mengembangkan perang elektronik dan strategi perang asimetris.
Mereka bahkan membangun doktrin bahwa apabila pusat komando dihancurkan, satuan di lapangan harus tetap mampu bertempur secara mandiri.
Pelajaran Iran sangat jelas:
*Ketahanan militer bukan ditentukan oleh banyaknya jenderal, tetapi oleh kemampuan seluruh organisasi untuk tetap bertempur dalam situasi paling sulit sekalipun.*
*TNI AD dan Tantangan Masa Depan*
Indonesia tentu bukan Amerika.
Indonesia bukan pula Tiongkok ataupun Iran.
Namun Indonesia dapat belajar dari pengalaman ketiga negara tersebut.
Pelajaran yang paling penting adalah bahwa organisasi militer tidak boleh kehilangan orientasi dasarnya.
TNI dibentuk sebagai alat pertahanan negara.
Karena itu, setiap kebijakan rekrutmen harus menjawab kebutuhan perang masa depan.
Setiap pendidikan harus menghasilkan pemimpin yang matang.
Setiap promosi harus didasarkan pada meritokrasi.
Dan setiap pembentukan struktur harus benar-benar didasarkan pada kebutuhan strategis.
Karena apabila organisasi tumbuh lebih cepat daripada kebutuhan operasionalnya, maka energi yang seharusnya dipakai untuk membangun kesiapan tempur justru habis untuk mengelola organisasi itu sendiri.
*Meritokrasi adalah Jantung Profesionalisme*
Militer modern berdiri di atas meritokrasi.
Amerika mempromosikan perwira berdasarkan prestasi.
Tiongkok melakukan reformasi besar demi menghapus praktik yang menghambat profesionalisme.
Iran membangun kepemimpinan yang berorientasi pada kemampuan bertahan dan bertempur.
Sementara itu, organisasi militer yang sehat harus memastikan bahwa promosi dan penempatan didasarkan pada kompetensi, integritas, dan kemampuan memimpin.
Pangkat bukan hak.
Pangkat adalah amanah.
Dan amanah tidak boleh diberikan hanya karena kedekatan, senioritas, atau pertimbangan di luar kepentingan organisasi.
Karena ketika meritokrasi melemah, yang hilang bukan hanya rasa keadilan.
Yang ikut hilang adalah kepercayaan prajurit kepada institusi.
*Penutup*
Pada akhirnya, sejarah militer dunia memberikan pelajaran yang sama.
Amerika Serikat membatasi jumlah jenderalnya demi menjaga efektivitas organisasi.
Tiongkok berani merombak struktur demi meningkatkan kesiapan perang.
Iran, di tengah tekanan dan embargo yang panjang, memilih memperkuat daya tahan tempur daripada membesarkan birokrasi militernya.
Indonesia tentu tidak harus menjadi Amerika, tidak pula harus menjadi Tiongkok atau Iran.
Namun Indonesia dapat belajar dari mereka bahwa kekuatan sebuah angkatan perang tidak terletak pada kebesaran struktur, melainkan pada kejernihan visi, profesionalisme kepemimpinan, dan kesiapan pasukan menghadapi ancaman yang nyata.
TNI lahir dari rahim perjuangan bangsa. Ia dibangun bukan untuk menjadi institusi yang sibuk mengelola pangkat dan jabatan, melainkan menjadi benteng terakhir kedaulatan negara. Karena itu, setiap kebijakan yang menyangkut rekrutmen, pendidikan, promosi, maupun pengembangan organisasi harus selalu diuji dengan satu pertanyaan yang paling mendasar:
*Apakah kebijakan itu membuat TNI semakin siap berperang, atau justru semakin sibuk mengurus dirinya sendiri?*
Pertanyaan itu penting. Sebab sejarah perang tidak pernah memberikan kemenangan kepada tentara yang paling besar organisasinya, melainkan kepada tentara yang paling siap menghadapi medan tempur.
Dan sejarah juga tidak akan terlalu lama mengingat berapa banyak bintang yang pernah tersemat di pundak seorang jenderal. Namun sejarah akan mencatat dengan tinta yang tidak pernah kering: *apakah pada masanya, ia berhasil meninggalkan tentara yang lebih profesional, lebih tangguh, dan lebih setia kepada tugas sucinya menjaga kedaulatan bangsa.*
Karena pada akhirnya, kemuliaan seorang jenderal tidak diukur dari tingginya pangkat yang pernah dicapai, tetapi dari kualitas prajurit yang ditinggalkannya.
Itulah warisan yang sesungguhnya. Sebuah warisan kehormatan yang nilainya jauh melampaui pangkat, jabatan, bahkan usia sebuah generasi. ***









