Era Middle Power Diplomacy: Peluang Indonesia di Tengah Kebuntuan AS vs Iran

Oleh: Mayor Jenderal TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer Republik Indonesia untuk PBB 2017–2019)
JAKARTA || Koranprogresif.id – Saya ingin bercerita sedikit dari pengalaman lama. Dulu, ketika saya masih bertugas di Dewan Keamanan PBB, saya belajar satu hal: ketika negara besar saling memblokir, tidak ada yang bergerak. Resolusi macet. Rapat berulang tanpa keputusan. Sementara di lapangan, orang-orang tetap mati, kapal-kapal tetap berhenti, dan harga minyak tetap naik.
Itulah yang saya lihat sekarang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran.
Beberapa pekan terakhir, semua harapan akan negosiasi di Islamabad buyar. AS menarik timnya. Iran, yang merasa sudah tidak digubris lagi, dengan terang-terangan menawarkan aliansi pertahanan ke Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO). Bahkan Wakil Menteri Pertahanan Iran menyatakan siap “berbagi kemampuan senjata pertahanan” dengan negara-negara Asia.
Ini bukan sekadar berita. Ini pertanda bahwa panggung dunia sedang berubah. Dan saya bertanya pada diri sendiri: di mana Indonesia dalam perubahan ini?
*Kenapa kebuntuan kali ini beda?*
Saya paham, banyak yang bilang: “Ah, AS dan Iran sudah lama musuhan. Biasa saja.” Tapi izinkan saya menjelaskan kenapa kali ini berbeda, dan kenapa kita perlu peduli.
*Pertama,* Iran sekarang tidak sendirian. Ia punya Rusia dan China di belakangnya. Jadi ketika AS memblokade pelabuhan Iran, China membuka rute alternatif. Ketika Iran diisolasi secara finansial, sistem pembayaran dengan Rusia tetap jalan. Ini bukan lagi duel satu lawan satu. Ini bagian dari perang dingin baru antara Barat dan poros Eurasia.
*Kedua,* kebuntuan ini total. Bukan cuma soal nuklir. Soal Selat Hormuz, soal hak lewat kapal, soal sanksi ekonomi. Tidak ada kompromi kecil yang bisa menutup lubang. Semua atau tidak sama sekali.
*Ketiga,* dan ini yang paling dekat dengan kita: dampaknya langsung sampai ke Selat Malaka.
Saya tahu ini terdengar teknis, tapi coba bayangkan: jika kapal-kapal takut lewat Hormuz, harga minyak dunia naik. Asuransi kapal naik. Jalur logistik memanjang. Dan ujungnya? UMKM di Surabaya, Medan, Makassar yang harus bayar lebih mahal untuk barang dan bahan baku. Jadi jangan salah. Kebuntuan AS vs Iran bukan drama jauh di sana. Ini urusan perut rakyat kita juga.
*Apa yang bisa dilakukan Indonesia?*
Kita punya semua modal untuk jadi pemain penting: sejarah Konferensi Asia-Afrika, posisi silang di antara dua samudra, pengalaman di PBB, hubungan baik dengan hampir semua negara. Tapi terlalu sering, kita cuma menunggu. Menunggu AS memutuskan. Menunggu China bergerak. Menunggu dunia memberi ruang.
Padahal, negara-negara middle power lain seperti Turki, Korea Selatan, bahkan Uni Emirat Arab, jauh lebih lincah. Mereka tidak menunggu. Mereka buat inisiatif sendiri.
Saya bukan sedang membandingkan untuk merendahkan. Saya hanya berpikir: kita juga bisa. Ada beberapa langkah kecil tapi menurut saya realistis.
*Pertama,* tawarkan Jakarta sebagai tempat dialog non-formal antara Iran dan negara-negara Teluk. Kita punya hubungan baik dengan kedua pihak. Tidak perlu target besar-besaran. Cukup bicara soal keselamatan pelayaran di Hormuz. Kalau ini berhasil, Indonesia akan dilihat sebagai negara yang bisa dipercaya, yang tidak memihak tapi tetap peduli.
*Kedua,* ajak ASEAN bicara satu suara. Selama ini ASEAN terlalu sibuk dengan Laut China Selatan dan Myanmar. Padahal kalau harga energi naik karena Hormuz, semua anggota ASEAN kena imbasnya. Saya pikir sudah waktunya kita menginisiasi pernyataan bersama ASEAN tentang pentingnya kebebasan navigasi di Hormuz dan Malaka sebagai satu paket.
*Ketiga,* manfaatkan keanggotaan kita di forum-forum seperti SCO (meski baru sebatas dialog) dan BRICS (yang sedang kita proses). Jangan biarkan keanggotaan itu hanya simbol. Kirim utusan teknis ke pertemuan pertahanan SCO. Pelajari bagaimana Iran bertahan dari blokade. Lalu bagikan pengalaman Indonesia dalam menjaga stabilitas maritim. Ini bukan membelot dari AS. Ini namanya diversifikasi. Justru dengan punya banyak teman, kita lebih dihargai.
*Keempat*, bangun komunikasi publik yang tenang di dalam negeri. Jangan sampai elite politik memanaskan isu ini untuk kepentingan sempit. Masyarakat perlu dijelaskan dengan bahasa yang sederhana: ini bukan masalah “kita pro siapa”, tapi “bagaimana kita tetap selamat dan sejahtera”.
*Penutup*
Saya menulis ini bukan karena saya merasa paling benar. Saya juga bukan lagi pemegang keputusan. Tapi sebagai seorang yang pernah duduk di ruang-ruang rapat PBB, yang pernah melihat sendiri bagaimana negara-negara besar macet dan negara-negara kecil kebingungan, saya merasa berkewajiban berbagi.
Kebuntuan AS vs Iran tidak akan selesai dalam satu atau dua tahun. Ini akan jadi bagian dari lanskap dunia untuk beberapa waktu ke depan. Pertanyaannya sederhana: apakah kita ingin terus jadi penonton, atau mau ikut ambil bagian?
Saya pribadi memilih yang kedua. Bukan karena kita paling kuat, tapi karena diam di tempat ketika dunia berubah bukanlah strategi yang bijak.
Kita punya sopan santun dalam bertutur, tapi itu tidak berarti kita harus lemah dalam mengambil sikap. Kita bisa tetap santun, tetap hormat pada semua pihak, tapi juga tegas menjaga kepentingan bangsa sendiri.
Itulah yang saya pahami sebagai middle power diplomacy untuk Indonesia. ***







