Gencatan Senjata AS-Iran di Ambang Batal, Damai Palsu di Tengah Mayat Anak-anak Lebanon

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad
Penasihat Militer RI untuk PBB (2017–2019) | Komandan Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (2009–2010)
JAKARTA || Koranprogresif.id – Pagi ini hujan deras mengguyur Geopark Ciletuh. Saya duduk di rumah kebun yang sederhana, ditemani secangkir kopi hangat, air jatuh dari atap seng membentuk irama yang tenang. Namun di kepala saya, suasana tenang itu segera pecah oleh kabar yang datang dari Timur Tengah.
Saya bukanlah orang yang mudah terkejut. Saya pernah memegang senjata di Lebanon sebagai Komandan Pasukan Perdamaian PBB pada 2009–2010. Saya juga pernah duduk di ruang-ruang rapat Dewan Keamanan PBB di New York sebagai Penasihat Militer RI antara 2017 dan 2019. Saya sudah melihat sendiri bagaimana perang dimulai, bagaimana gencatan senjata dinegosiasikan, dan bagaimana anak-anak sering menjadi korbannya.
Tapi kabar pagi ini membuat saya terdiam.
*Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, yang baru berusia dua hari, dilaporkan berada di ambang kebatalan*. Iran menuduh AS melanggar kesepakatan. Salah satu pelanggaran yang paling serius, menurut Teheran, adalah kegagalan Washington menghentikan sekutunya, Israel, untuk terus menyerang Lebanon.
Saya membaca berita itu lagi. Lalu saya membaca pernyataan resmi Israel. Kantor Perdama Menteri Netanyahu mengatakan dengan tegas bahwa mereka tidak terikat dengan gencatan senjata AS-Iran untuk front Lebanon. Artinya, menurut mereka, mereka bebas terus mengebom Lebanon.
Dan mereka melakukannya. Dalam satu hari, 8 April 2026, lebih dari 182 orang tewas di Lebanon. Ribuan luka-luka. Rumah sakit kewalahan.
Saya tutup mata sejenak. Saya membayangkan jalan-jalan di Beirut Selatan yang dulu saya lalui saat patroli. Saya membayangkan wajah-wajah anak kecil yang dulu saya temui di kamp-kamp pengungsian. Lalu saya membayangkan mereka tertimpa reruntuhan.
*Sejak perang melebar ke Lebanon pada 2 Maret 2026, sedikitnya 130 anak telah kehilangan nyawa.* Seratus tiga puluh. Bukan angka. Mereka adalah manusia kecil yang punya mimpi. Mereka ingin menjadi guru, dokter, tentara, atau mungkin seperti saya dulu ingin membawa perdamaian.
*Tapi mereka tidak sempat tumbuh.*
Saya bertanya pada diri sendiri: *Apakah pantas disebut gencatan senjata jika bom terus berjatuhan di satu negara sementara berhenti di negara lain?* Bukankah gencatan senjata seharusnya berarti semua senjata berhenti, untuk semua pihak, di semua tempat?
Wapres AS JD Vance mengatakan bahwa Lebanon “tidak ada hubungannya dengan Iran”. Dengan hormat, sebagai mantan diplomat yang pernah duduk di New York, saya merasa pernyataan itu sulit diterima akal sehat. Hizbullah ada di Lebanon. Hizbullah didukung Iran. Menyerang Hizbullah berarti menyerang kepentingan Iran. Tentu ada hubungan. Sangat jelas.
*Jadi apa sebenarnya yang terjadi?*
Saya khawatir ini adalah *damai palsu.* Gencatan senjata yang dibuat bukan untuk menghentikan perang, tetapi untuk memberi satu pihak kebebasan memukul pihak lain tanpa gangguan. AS diam saat Israel mengebom Lebanon. Iran protes, tetapi tidak berdaya karena terikat perjanjian. Dan PBB? Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Turk hanya bisa menyebutnya “mengerikan”. Saya setuju. Tapi kata “mengerikan” tidak pernah menghentikan bom.
Dari pengalaman saya di PBB, saya tahu bahwa kata-kata indah sering menghiasi resolusi. Tapi di lapangan, yang berbicara adalah rudal dan jet tempur. Dan yang paling tidak bersuara selalu adalah anak-anak.
*Saya tidak menulis ini untuk marah. Saya sudah terlalu tua untuk marah.* Saya menulis ini karena saya masih percaya bahwa dunia bisa berbuat lebih baik.
Saya menawarkan tiga hal sederhana, sebagai seorang prajurit yang pernah menjadi diplomat, dan sebagai diplomat yang pernah menjadi prajurit:
Pertama, jangan mengakui gencatan senjata yang hanya menguntungkan satu pihak. Dunia harus berani menyebutnya sebagai apa adanya: pengalihan perhatian.
Kedua, dorong mekanisme penegakan yang mengikat. Gencatan senjata tanpa pengawas independen sama saja dengan mengundang pelanggaran.
Ketiga, Indonesia harus angkat suara. Bukan sekadar pernyataan keprihatinan, tetapi tawaran nyata untuk mengirim pasukan pemantau. Kita punya pengalaman. Kita punya kredibilitas. Saatnya bicara.
Saya tidak tahu apakah gencatan senjata AS-Iran akan bertahan atau runtuh besok lusa. Tapi satu hal yang saya yakini sampai sekarang: *gencatan senjata yang gagal melindungi anak-anak bukanlah perdamaian. Ia adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan.*
Dan pengkhianatan seperti itu, di mata seorang mantan penjaga perdamaian, sama saja dengan ikut membunuh.
*Geopark Ciletuh, Sukabumi 9-4-2026*









