Ketika Langit Nusantara Batuk Bersamaan: Firasat Alam atau Kebetulan Geologis?

Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc.,.M.Pd.I.
YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Pernahkah Anda membayangkan, ketika sedang menikmati secangkir kopi pagi, tiba-tiba langit berubah abu-abu dan jelutut dingin menggantung di udara? Bagi masyarakat Nusantara, langit yang mendung oleh abu vulkanik bukanlah cerita baru. Namun, apa jadinya jika dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, empat gunung berapi megah di Indonesia memutuskan untuk “bernapas” dan menyemburkan abunya ke udara secara serentak? Firasat alam murka kah ini, atau sekadar mekanisme alam yang biasa?
Masyarakat kita sejak lama memelihara ikatan batin dengan gunung. Dalam kosmologi Nusantara—sebagaimana dicatat oleh etnograf Jos. Meijboom-Italiaander dalam Sagen, Mythen en Legenden uit den Oost-Indischen Archipel (Zutphen: W.J. Thieme & Cie, 1932, hlm. 84)—letusan gunung sering kali dibaca sebagai jangka atau tanda zaman, sebuah peringatan sosial atas ketidakseimbangan tata kelola bumi dan manusianya. Pendekatan puitis ini sejalan dengan khazanah klasik Arab. Ibn Manzhūr dalam masterpisenya, Lisān al-`Arab (Kairo: Dār al-Ma`ārif, 1981, Vol. 1, hlm. 142), menjelaskan bahwa fenomena alam yang dahsyat sering diistilahkan sebagai āyah—sebuah pertanda visual agar manusia berhenti sejenak dan berpikir.
Namun, jika kita menanggalkan kacamata mitos dan mengenakan kacamata sains modern, apakah fenomena “batuk serentak” ini sejatinya terhubung secara geologis?
Secara ilmiah, Indonesia berdiri tangguh di atas Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), titik temu tiga lempeng tektonik utama dunia: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Pakar vulkanologi Jerman, Karl Sapper, dalam bukunya Vulkankunde (Stuttgart: J. Engelhorns Nachf., 1927, hlm. 84), menekankan bahwa meskipun gunung-gunung berapi terletak dalam satu busur kepulauan yang sama, kantong magma (magma chamber) tiap gunung pada dasarnya bersifat independen.
Erupsi yang terjadi hampir bersamaan di tiga gunung berbeda di Indonesia bukanlah pertanda mistis bahwa “bumi sedang marah”, melainkan konsekuensi logis dari dinamika tektonik regional. Ketika pergerakan lempeng skala besar menekan jalur busur magmatis, tekanan hidrostatik di beberapa kantong magma yang sudah matang dapat terpicu secara acak dalam rentang waktu yang berdekatan. Ahli geologi Amerika, Robert Tilling, dalam karyanya Volcanoes (Reston: U.S. Geological Survey, 1997, hlm. 23), menegaskan bahwa korelasi waktu erupsi antar-gunung kerap kali merupakan kebetulan statistik dalam skala waktu geologi, bukan komunikasi langsung antar-magma.
Meski demikian, “tanda alam” tetaplah tanda alam jika dilihat dari perspektif ekologis dan sosial. Abu vulkanik yang mengepul bersamaan membawa pesan kritis yang sangat nyata bagi kita yang hidup di atasnya. Ia memperingatkan rapuhnya tata ruang wilayah, lemahnya mitigasi bencana, serta ancaman krisis keanekaragaman hayati dan pemukiman yang kian merangsek ke zona bahaya. Sebagaimana diingatkan oleh Otto Soemarwotto dalam Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan (Jakarta: Djambatan, 2004, hlm. 112), bencana alam di Indonesia sering kali menjadi refleksi kegagalan adaptasi budaya dan pembangunan terhadap karakteristik ekosistem setempat.
Pada akhirnya, ketika tiga gunung batuk bersamaan, alam sebenarnya tidak sedang mengirimkan kutukan misterius. Alam sedang menjalankan siklus peremajaan dirinya sendiri sembari mengetuk kesadaran kita. Pesan itu amat terang: sudahkah kita bertetangga dengan baik bersama sang gunung, atau kita justru terlalu pongah hingga lupa cara membaca tanda-tanda yang ditebarkannya di atas langit?***
Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
– Dosen STAI Yogyakarta,
– Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul,
– Ketua Yayasan Majma’ Bahrain Internasional,
– Ketua Harian Paguyuban Keluarga Pasir se-Dunia (PKPD),
– Penasihat Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN).









