Menimbang Perang Dunia ke-3, Saat Hormuz Membara dan Apa yang Harus Disiapkan Indonesia?

Mayor Jenderal TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer RI untuk PBB 2017-2019)
JAKARTA || Koranprogresif.id – Mengawali aktifitas di pagi hari dalam perjalanan menuju Bandung, Saya sempatkan untuk menulis sebuah artikel yang saya beri Judul Menimbang Perang Dunia ke-3, Saat Hormuz membara dan Apa yang harus disiapkan Indonesia. Mungkin judulnya terkesan Provokatif, Bombastis dan menakut-nakuti, tapi itulah keniscayaan yang akan terjadi bila Negara yang merasa menjadi adikuasa seenaknya berbuat terhadap wilayah negara lain dan menabrak hukum Internasional.
Mari kita lanjutkan, Selama saya bertugas di PBB sering melihat negara-negara besar saling adu mulut di meja dewan. Tapi yang saya baca belakangan ini benar-benar berbeda.
Hormuz ditutup, Kapal tanker Iran dibajak AS, Korea Utara meluncurkan rudal dan Kapal perang China bergerak mendekati Teluk. Semua terjadi hampir bersamaan. Ini bukan latihan. Ini skenario perang dunia.
Dan Indonesia? Kita yang 60 persen kebutuhan minyaknya dari impor, berdiri di barisan terdepan sebagai calon korban. Bukan karena kita ikut perang. Tapi karena harga minyak akan meledak, dan rakyat Indonesia yang akan membayarnya. Pertanyaan saya: apa yang sudah kita siapkan?
*Negosiasi Gagal, karena Keduanya Sama-sama Tidak Mau Kalah*
Setelah perang singkat pada Februari lalu, ada gencatan senjata. Ada negosiasi di Islamabad. Semua orang sedikit lega. Tapi kemudian AS menyita kapal Iran di dekat Hormuz. Iran marah besar. Mereka bilang itu pelanggaran. Lalu mereka mengumumkan tidak akan kembali ke meja perundingan.
AS membalas dengan ancaman. Iran tidak bergeming. Mengapa?
Karena bagi Iran, Hormuz adalah satu-satunya kartu truf yang mereka pegang. Lewat selat itu mengalir seperlima minyak dunia. Selama mereka bisa mengancam akan menutupnya, dunia masih harus dengar kata-kata mereka. Begitu dibuka, mereka kehilangan segalanya.
AS tahu itu. Iran tahu itu. Kita semua tahu itu. Jadi sekarang? Jalan buntu. Dan di jalan buntu seperti ini, satu kesalahan kecil bisa memicu perang besar.
*AS Sebenarnya Tidak Berani Masuk ke Hormuz*
Ini fakta yang jarang diungkap media. Kenapa kapal perang AS yang supercanggih itu tidak langsung masuk dan membuka paksa Selat Hormuz? *Jawabannya sederhana: karena mereka takut.*
Bukan takut kalah perang. Tapi takut kehilangan kapal dan nyawa. Iran sudah puluhan tahun membangun pertahanan untuk perairan sempit. Ranjau, rudal murah, perahu kecil cepat, drone. Semua itu tidak butuh biaya besar, tapi kalau digunakan di selat yang lebarnya cuma beberapa puluh kilometer, efeknya luar biasa berbahaya.
Coba bayangkan: satu kapal perang AS isinya ratusan personel, harganya miliaran dolar. Apakah seorang laksamana mau mempertaruhkan itu hanya untuk “membuka jalur”? Tidak akan, kecuali ada perintah dari atas yang tidak bisa ditawar.
*Lalu bagaimana dengan China?*
Armada China mendekati Hormuz bukan untuk perang. Mereka datang untuk membuat AS pusing. Coba bayangkan: kalau kapal China mencoba menembus blokade, apa yang akan dilakukan AS? Ditembak? Berarti perang dengan China. Didiamkan? Berarti malu. Itulah fungsi China di sini: menjadi faktor yang membuat perhitungan AS menjadi rumit.
*Kesimpulannya: Hormuz tidak akan dibuka dengan kekuatan militer. Satu-satunya jalan adalah diplomasi. Tapi diplomasi sekarang sedang dalam keadaan kritis*.
*Eropa Mulai Menjauh dari AS*
Kita menyaksikan dibebeapa pemberitaan media internasional dimana Eropa tidak mengizinkan ruang udara untuk AS. Ini bukan omong kosong. Ini sudah terjadi di beberapa negara.
Austria menolak. Italia menolak. Spanyol menutup wilayah udaranya. Prancis juga tidak kasih izin. Mengapa?
Karena Eropa punya perhitungan sendiri. Bagi AS, perang ini soal pengaruh dan keamanan Israel. Bagi Eropa, perang ini ancaman langsung ke kantong mereka sendiri harga gas naik, industri terhambat, rakyat demo.
Ini pelajaran penting untuk Indonesia: *dalam krisis, setiap negara akan memilih dirinya sendiri. Sekutu dekat sekalipun bisa berubah pikiran kalau kepentingan mereka terancam.*
*Sekarang Kita Bicara Indonesia*
Saya tidak mau panjang lebar. Saya kasih angkanya saja. Kita butuh 1,6 juta barel minyak per hari. Kita hanya produksi 600 ribu barel. Sisanya 1 juta barel harus impor. Dari 1 juta barel impor itu, 250 ribu barel setiap hari berasal dari Timur Tengah dan harus lewat Hormuz.
Artinya: setiap hari, 250 ribu barel minyak untuk pabrik, mobil, dan generator kita—melewati zona perang.
Iran kabarnya memberi “lampu hijau” untuk kapal Indonesia. Tapi izin lisan di tengah perang itu tidak ada jaminannya. Hari ini boleh, besok bisa dilarang. Karena kebijakan Iran di Hormuz adalah senjata politik, bukan rambu lalu lintas.
Yang lebih mengkhawatirkan: cadangan BBM kita hanya cukup untuk 21-23 hari. Dalam kondisi normal, itu mungkin aman. Tapi dalam kondisi perang dan blokade? 21 hari adalah waktu yang sangat-sangat tipis.
*Apa yang Harus Kita Lakukan?*
Saya tidak akan memberikan rekomendasi yang muluk-muluk. Cuma tiga hal, dan semuanya realistis.
Pertama, jangan hanya andalkan “lampu hijau” Iran. Kita sudah mulai beli minyak dari Rusia. Itu bagus. Tapi jangan berhenti. Cari juga dari Afrika, dari Amerika Latin, dari Australia. Intinya: jangan taruh semua telur dalam satu keranjang bernama Timur Tengah.
Kedua, bangun cadangan minyak nasional. 21 hari itu terlalu pendek. Kita perlu cadangan minimal sebulan, lebih baik 45 hari. Ini butuh biaya. Tapi ini bukan lagi pilihan. Ini keharusan.
Ketiga, serius dengan energi terbarukan dan B50. Indonesia punya sawit. Kita bisa produksi biodiesel. Program B50 (biodiesel 50 persen) kalau berhasil bisa menghemat devisa sampai 150 miliar dolar per tahun. Itu angka yang luar biasa. Itulah kemandirian.
Penutup
Bapak – Ibu , Saudara – saudara sebangsa dan setanah air.
Saya tidak tahu apakah Perang Dunia ke-3 benar-benar akan terjadi. Saya juga tidak tahu apakah Hormuz akan ditutup selama berbulan-bulan.Tapi yang saya tahu: Indonesia saat ini tidak siap. Cadangan kita tipis. Sumber impor kita masih terpusat di satu kawasan rawan. Dan kita masih terlalu lamban bergerak ke energi terbarukan.
Pertanyaannya bukan “apakah perang akan terjadi”. Pertanyaannya adalah: *apakah kita akan siap ketika badai itu benar-benar datang?* Saya berharap jawabannya bukan “tidak”. Karena rakyat Indonesia tidak pantas membayar harga dari ketidakbersiapan kita.
*Cisaranten, April 2026*








