Opini

Bumi yang Merana, Nurani yang Terlupa

YOGYAKARTA || Koranprogreaif.id – Pernahkah Anda membayangkan sebuah rumah yang atapnya bocor, tetapi para penghuninya justru sibuk berdebat tentang warna cat tembok? Itulah gambaran tepat planet kita hari ini. Kita kerap memperbincangkan kemajuan peradaban, revolusi industri, hingga lompatan teknologi kecerdasan buatan. Namun, di balik riuh megah pembangunan, ada jarak sunyi yang diabaikan: krisis ekologi dan penderitaan kemanusiaan yang sengaja disingkirkan dari panggung utama sejarah.

 

Kemelut ini bukanlah kecelakaan sejarah yang tak disengaja. Ini adalah buah dari sistem yang melihat alam semata sebagai komoditas dan manusia hanya sebagai angka dalam bagan produktivitas. Dalam Politik Ekologi, A. Sonny Keraf, )Penerbit Kompas, 2010, hlm. 45), ditegaskan bahwa akar eksklusi lingkungan hidup berakar dari cara pandang antroposentris yang rakus—memandang bumi hanya sebagai pemuas dahaga kapital. Alam tak lagi disapa sebagai ibu, melainkan diperkosa atas nama pertumbuhan ekonomi.

 

Tragedi ini kian menyayat saat dampaknya menghantam kelompok paling rapuh. Dalam kitab sejarah Islam klasik, al-Maqrizi melalui Ighatsat al-Ummah bi Kasyf al-Ghummah (Maktabah al-Thaqafah al-Diniyyah, Cairo, 1940, hlm. 18) merekam bagaimana bencana lingkungan dan kekeringan di Mesir zaman dahulu selalu berujung pada eksploitasi dan penderitaan rakyat jelata akibat ketidakadilan struktur sosial. Bencana ekologis tidak pernah netral; ia selalu memilih korbannya, yaitu kaum miskin yang tak punya ruang untuk melarikan diri.

 

Ketimpangan struktural ini makin terang benderang jika kita menengok relasi kuasa global. Cendekiawan Barat telah lama mengingatkan bahaya pemisahan antara etika dan tata kelola alam. Vandana Shiva dalam Staying Alive: Women, Ecology and Development (Zed Books, London, 1989, hlm. 82) mengungkapkan bagaimana malapetaka lingkungan modern berakar dari pengrusakan hubungan harmonis antara alam dan komunitas lokal demi ambisi akumulasi modal.

 

Logika destruktif ini sesungguhnya merupakan warisan dari era kolonial. Sosiolog Belanda, W.F. Wertheim dalam Indonesië: Van Vorstenrijk tot Uitbuiting (J.U. Uitgeverij, Amsterdam, 1978, hlm. 112) secara tajam menguliti bagaimana ekstraksi sumber daya alam di Nusantara zaman penjajahan sengaja mengorbankan ruang hidup dan kesejahteraan pribumi demi kemakmuran negeri seberang. Pola eksklusi lama ini rupanya tidak pernah benar-benar lenyap; ia hanya berganti baju dalam wujud neolibelarisasi lingkungan modern.

 

Filsuf Jerman Jürgen Habermas dalam Technik und Wissenschaft als ‘Ideologie’ (Suhrkamp Verlag, Frankfurt am Main, 1968, hlm. 48) menandaskan bahwa ketika rasionalitas instrumental mendominasi, nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan emosional akan dengan mudah disingkirkan demi efisiensi teknis. Alam dianggap sekadar bahan baku, dan manusia terasing dari dunianya sendiri.

 

Eksklusi ekologi dan krisis kemanusiaan adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama. Mengabaikan kerusakan alam berarti membiarkan kehancuran tempat hidup manusia. Sudah saatnya kita meruntuhkan tembok ketakpedulian ini. Mengembalikan etika dalam mengelola bumi bukan lagi pilihan akademis yang melayang di awan, melainkan syarat mutlak agar kita tetap bisa bertahan hidup sebagai manusia yang utuh.***

 

Penulis adalah:

– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,

– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,

– Dosen STAI Yogyakarta,

– Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul,

– Ketua Yayasan Majma’ Bahrain Internasional,

– Ketua Harian Paguyuban Keluarga Pasir se-Dunia (PKPD),

– Penasihat Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN).

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock